Senin, 09 April 2012

Analisis Cerpen “Dari Masa Ke Masa” Karya A.A Navis


Detik, menit, jam, hari, bulan, bahkan tahun akan terus berjalan karena waktu tak pernah berhenti berputar. Waktu  selalu memberikan kisah yang  terjadi di setiap detiknya yang akan selalu membuahkan kenangan yang manis ataupun pahit bagi setiap insan di dunia ini. Perubahan waktu itu pun menjadikan berbagai perubahan dalam kehidupan dunia yang fana ini. Perubahan tersebut dapat membuat kehidupan ini menjadi lebih baik ataupun lebih buruk tergantung dengan perilaku manusia itu sendiri. Begitu pula kejadian yang tergambarkan dalam cerita pendek karya A.A Navis yang berjudul “Dari Masa ke Masa” ini. Perbedaan yang datang dari setap waktu memberikan sebuah pelajaran terhadap kita yang melewatinya.



Dalam cerpen ini penulis seolah menggambarkan perbandingan terhadap kehidupan sosial yang pernah dialaminya pada masa muda dengan kehidupan sosial pada zaman sekarang. Beliau memberikan gambaran terhadap perubahan-perubahan nilai-nilai sosial yang sangat berbanding terbalik pada zaman dahulu dan zaman sekarang.



Aspek sosial yang terdapat dalam cerita pendek ini yaitu pada zaman dahulu, resty dan nasihat merupakan hal yang utama karena  hal tersebut sebagai tolak ukur akan sesuatu agar dapat melaksanakan segalanya dengan lancar, baik dan sesuai dengan aturan yang berlaku. Seperti dalam kutipan paragraf pertama, baris pertama Waktu saya muda dulu, sekitar usia dua puluh tahun, saya sering dongkol pada orang tua-tua. Bayangkanlah, setiap apa pun yang akan kami lakukan selalu kena tuntut agar minta nasihat dulu, minta restu dulu pada orang tua-tua.”



Selanjutnya yaitu segala tata cara yang berlaku pada zaman dahulu memang seolah menjadi tata cara kebiasaan sehingga menimbulkan suatu sanksi bila melanggarnya. Seperti dalam kutipan paragraf pertama baris ke limaMemang tidak ada paksaan. Tapi selalu saja ada pesan-pesan agar sebelum kami mulai melaksanakan kegiatan kami, sebaiknya kami berbicara dengan Bapak Anu, Bapak Polan, Bapak Tahu, atau pada bapak sekalian bapak.”



Selain itu, kehidupan anak muda di zaman tersebut atau pada tahun 1950an tidak sesuai dengan kehidupan anak muda di zamannya, karena anak yang sudah duduk di tingkat SMA saja tidak memiliki kemampuan. Seperti dalam kutipan paragraf ke-15 baris ke tujuhAnak-anak sekolah SMA dulu, telah bisa menjadi guru bahkan direktur SMA swasta. Sedangkan anak-anak SMA sekarang, tidak bisa berbuat apa-apa.

Dan aspek sosial yang terakhir dalam cerpen ini yaitu para orang  tua selalu menjaga kedudukan dan kekuasaan sebagai orang-orang yang harus dipercaya atau sebagai patokan generasi muda. Seperti dalam kutipan paragraf sembilan baris ke dua “ bahwa orang tua-tua itu bersikap demikian kepada kami orang muda-muda dulu itu, karena mereka tengah memelihara posisinya yang tinggal sekomeng lagi, karena kekuasaan revolusi tidak berada di tangan mereka.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar